Sheng-yen Lu

Banyak yang tidak menyadari bahwa Sheng-yen Lu, pria kelahiran Chiayi, Taiwan, tahun 1945 ini adalah salah seorang penulis yang paling produktif dalam sejarah.  Ia baru saja menyelesaikan buku ke-220 pada bulan November 2010 yang lalu.

Master Sheng-yen Lu adalah seorang guru Dharma dan praktisi Buddhisme Tantrayana. Bergelar Lian Sheng Rinpoche, ia adalah pendiri True Buddha School (aliran Satya Buddha/Zhenfo Zong), salah satu sekte Buddhisme yang paling aktif dengan murid lebih dari 5 juta orang yang tersebar di seluruh dunia. Sejak tahun 1970, ia menghasilkan karya tulis tanpa henti tentang filsafat timur, ajaran Tao, ilmu fengshui, dan Buddhisme Tantra.  Sebagian besar bukunya banyak menarik perhatian karena menyingkap tabir hukum alam, kemampuan paranormal, serta dunia di luar alam manusia.  Tak heran, dengan gaya tulisan yang kerap lugas dan gamblang, karangannya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh PT Budaya Daden Indonesia.

Praktisi Tantra
Bagi yang mengenalnya, Master Sheng-yen Lu adalah sosok yang bersahaja. Sebagai seorang bhiksu, ia kini menghabiskan waktunya untuk menulis, berceramah Dharma, serta menekuni sadhana (pelatihan diri). Masa mudanya tidaklah menonjol, kalau bukan karena pengalaman gaib pada usia 25 tahun yang mengubah jalan hidupnya.

Master Sheng-yen Lu lahir di Chiayi, Taiwan, pada tanggal 18 bulan 5 penanggalan lunar, tahun 1945. Suatu hari di tahun 1969, Sheng-yen Lu muda diajak ibundanya bersembahyang di kuil Taoisme Yuhuang Gong di Kota Taichung. Oleh Mahadewi Yaochi, sesosok dewi dalam Taoisme, Sheng-yen Lu dibukakan mata dewa dan telinga dewa.  Dalam seketika, ia dapat melihat tiga sosok Bodhisattva (makhluk suci) yang menampakkan diri dan berpesan kepadanya untuk melatih diri dan membabarkan Dharma. Malam hari itu juga, roh Sheng-yen Lu dibawa ke alam Sukhavati (alam suci sebelah barat dalam Buddhisme) di mana ia melihat asal usul dirinya, yakni Bodhisattva Padmakumara.


Sejak itu, Master Sheng-yen Lu setiap hari berlatih sadhana dengan bimbingan dari guru rohaniah yang tak berwujud selama tiga tahun lamanya. Sejak tahun 1970, ia pun mendapat bimbingan dari para guru manusia dari aliran Taoisme, Buddhisme Mahayana, dan Buddhisme Tantra.

Tantrayana kerap disebut juga sebagai ajaran Buddha Esoterik, atau bersifat rahasia.  Berbeda dari mahzab Buddhisme lainnya, Tantrayana (tantra: kontinuitas; yana: wahana) mencakup ajaran, teknik, dan ritual yang tidak dibuka untuk umum, namun diturunkan secara langsung dari guru ke murid selama puluhan generasi.  Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan, setiap praktisi Tantra amat menjunjung dan menjaga silsilah ajarannya.

Sejak tahun 1972, Master Sheng-yen Lu telah menguasai tata-ritual Sadhana Tantra yang lengkap, termasuk sadhana-sadhana rahasia Tibet yang tidak diturunkan lagi selama ratusan tahun sebelumnya. Ia pun mewarisi silsilah Tantrayana dari empat sekte utama Buddhisme Tibet, yakni Nyingma, Sakya, Kargyu, dan Gelug. Pelatihan spritualnya mencapai puncaknya setelah ia pindah ke Amerika Serikat tahun 1982. Setelah bertapa selama tiga tahun di Paviliun Lingxian di Ballard, Seattle, Master Sheng-yen Lu mencapai tingkat keberhasilan tertinggi, anuttara samyaksambodhi.

 

Selain berceramah Dharma dan menekuni sadhana, Master Sheng-yen Lu tekun menuangkan pemikiran dan isi hatinya dalam bentuk tulisan setiap hari, di mana ia menyelesaikan rata-rata sebuah buku setiap bulan.  Isi buku-bukunya sangatlah bervariasi, antara lain cerita pengalaman hidupnya memberi konsultasi spiritual dan fengshui, pengalamannya menembus batas alam nyata dan baka, penjelasan teknik bersadhana, kisah nyata sebab-akibat hukum karma, sampai dengan filsafat hidupnya sebagai seorang tantrika.  Meski beragam, buku-bukunya menyiratkan intisari kebijaksanaan Dharma yang universal, yakni pentingnya perbuatan baik dan pelatihan diri untuk mengatasi derita dalam kehidupan duniawi dan mencapai kesucian yang kekal. Sampai dengan Desember 2010, Master Sheng-yen Lu telah menerbitkan bukunya yang ke 220. Di tanah air, bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah sebanyak 16 buku.

 

by Budaya Daden team