LEARN MORE » Taosim & Confucianism

Agama Tao/Taoisme adalah mengenai pembelajaran, pelatihan, dan praktek, maka dari itu Taoisme adalah belajar mengenai jalan dari Tao, melatih diri untuk mencapai Tao, dan mempraktekkan ajaran Tao. Asal mula Taoisme berawal dari masa Kaisar Kuning (Huang Di), selanjutnya digagas oleh ajaran filsafat dari Laozi, kemudian diorganisasi sebagai sebuah agama oleh Zhang Daoling, beliau dikenal sebagai Guru Langit Zhang dari agama ini. 

Agama Tao adalah agama asli China. Ia merupakan perwujudan dari tradisi dan keyakinan masyarakat yang dijalankan sejak masa awal peradaban China. Maka, seperti yang dikatakan Lu Xun, seorang penulis besar China, “Akar dari masyarakat China adalah Taoisme . Maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan Tionghoa ada dalam Taoisme, karena Taoisme dan budaya Tionghoa saling menyerap dan diserap dalam perjalanan historisnya

Taoisme mengambil dasar filsafat dan ajaran Daodejing karya Laozi, akan tetapi ia sama sekali belum pernah berkembang menjadi suatu sistem kepercayaan yang dogmatik. Sebaliknya Taoisme sepenuhnya mengadopsi falsafah dan prinsip akan “TAO”. Taoisme menekankan bahwa sangatlah penting untuk memahami sifat alami dari segala sesuatu. Karena dengan mengetahui prinsip Tao maka manusia dapat hidup dalam keselarasan.

Taoisme memandang alam semesta dengan segala manifestasinya sebagai sesuatu yang bekerja berdasarkan suatu susunan hukum-hukum alam yang kekal, tidak berubah. Manusia dapat memperoleh pengetahuan akan hukum-hukum alam ini dan dapat menyelaraskan diri dengannya. Adalah hukum-hukum alam inilah yang menjadi prinsip inti dari Taoisme. Dengan menyelaraskan diri kita dengan prinsip-prinsip tersebut, memungkinkan kita memiliki cara pandang dan pengertian yang universal yang mengijinkan kita untuk dapat hidup secara selaras dengan TAO. Oleh karenanya, Taoisme dapat diartikan sebagai tradisi filsafat-keagamaan China yang ditujukan untuk mencapai keselarasan dengan TAO yang transenden.

 

Umat Tao menjadikan hari kelahiran Laozi, tanggal 15 bulan 2 Imlek sebagai hari untuk memberikan penghormatan. Seluruh tempat ibadah Tao mengadakan persembahyangan untuk memperingati Sang Maha Sesepuh Tao, dan menjadikan hari tersebut sebagai Hari Raya Taois (Taoist Day).

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Konfusianisme adalah kemanusiaan, suatu filsafat atau sikap yang berhubungan dengan kemanusiaan, tujuan dan keinginannya, daripada sesuatu yang bersifat abstrak dan masalah teologi. Dalam Konfusianisme manusia adalah pusat daripada dunia: manusia tidak dapat hidup sendirian, melainkan hidup bersama-sama dengan manusia yang lain. Bagi umat manusia, tujuan akhirnya adalah kebahagiaan individu. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan adalah melalui perdamaian. Untuk mencapai perdamaian , Khonghucu (Confucius) menemukan hubungan antar manusia yang meliputi Lima hubungan (Ngo Lun) berdasarkan Cintakasih dan Kewajiban. Peperangan harus dihindarkan; dan Persatuan Besar dari seluruh dunia harus dikembangkan. 

Untuk memahami kebudayaan masyarakat Asia Timur yang pada saat ini merupakan hampir seperempat bagian dari penduduk dunia, mempelajari Konfusianisme adalah suatu keharusan. Konfusianisme adalah warisan dari Timur, suatu bentuk budaya yang mekanismenya untuk mengawasi tingkah laku masyarakat tersebut yang dilahirkan dan dibesarkan dibawah pengaruh budaya Konfusianisme yang menekankan pada kehidupan keluarga dan perkembangan pribadi. Budaya Konfusianisme ini adalah dasar yang unik dari tingkah laku/sikap masyarakat di Asia Timur, seperti halnya Kristen yang merupakan inti dari sikap masyarakat di Barat. Saat ini kita tidak dapat melupakan orang Asia-Amerika. Berdasarkan harian Washington Post, "Meskipun Orang Asia-Amerika hanya merupakan 2.4 persen dari populasi negara, mereka merupakan 17.1 persen mahasiswa di universitas Harvard, 18 persen di Massachussets Institute of Technology dan 27.3 persen di Universitas California -Berkeley. Di Universitas California- Irvine, 35.1 persen dari mahasiswanya adalah orang Asia-Amerika, bahkan perbandingan class barunya lebih tinggi : 41 persen. Sifat kerja keras orang-orang Asia merupakan warisan Konfusianisme secara umum, filsafat 5 abad sebelum masehi, orang Bijaksana dari Cina yang mengajarkan orang untuk menjadi sempurna hanya melalui pendidikan dan latihan (praktek). Khonghucu (Confucius) bukan hanya merupakan karakter pada masa lalu, beliau adalah kenyataan hidup dari masayarakat tersebut."

Khonghucu berkata: "Orang dilahirkan dalam keadaan yang sama, dan tidak seharusnya ada perbedaan/diskriminasi dalam hal pendidikan," tetapi tanpa usaha tidak seorangpun dapat mencapai hasil.

Konfusianisme bukan satu-satunya yang disebut agama. Khonghucu sendiri sangat percaya kepada Tuhan dan mengajarkan Tao-nya yang membimbing umat manusia ke Jalan yang terang, dengan cara ini akan menyatu/manunggal dengan Tuhan, dengan tanpa mempertujukkan orang dapat membuktikannya; dengan tanpa menggerakkan orang membuat perubahan, dan tanpa berusaha orang dapat memperoleh hasil akhirnya. Ajaran Khonghucu adalah yang paling suci diantara ajaran suci, dan mungkin di atas semua agama dan tidak pernah bertentangan dengan mereka. Beliau percaya bahwa semua orang di dunia ini adalah bersaudara di bawah Tuhan Yang Esa.

Pada masa kejayaan bangsa Eropah 300 tahun yang lalu, banyak sarjana dan kaum intelektual terinspirasi oleh ajaran Khonghucu. Salah satu diantara mereka adalah Gottfried Wilhelm von Leibniz, bahkan mengusulkan pada tahun 1698 suatu program pertukaran budaya Timur-Barat, mungkin usul pertukaran pertama internasional. Dia menulis "Banyak Pendeta Jesuit adalah ahli matematika dari Academies des Sciences telah dikirim ke Timur untuk mengajarkan penguasa kerajaan bukan hanya seni matematika melainkan juga intisari filsafat kami. Sangat menarik ternyata mereka berbalik mengajarkan kami sesuatu hal yang memang kami sangat sukai; penggunaan filsafat dalam praktek yang terbesar dan suatu sikap hidup yang lebih sempurna. Nampaknya kondisi dari masalah kami bagi saya adalah seperti kami membutuhkan misionaris dari China yang mungkin dapat mengajarkan kami untuk menggunakan dan mempraktekkan agama asli (Konfusianisme), daripada kami mengirimkan kepada mereka guru untuk mengungkapkan teologi (Kristen)".

Sayang sekali, tidak ada Konfusian yang menanggapi terhadap undangan Leibniz untuk melayani orang Barat seperti misionaris. Kemudian, Pusat Tao-Konfusianisme (Center for Dao-Confucianism)berusaha memenuhi semua kebutuhan dan kegiatan yang tepat sebagai misi Konfusian daripada organisasi pendidikan untuk menyebarkan Ajaran Khonghucu demi kepentingan masyarakat luas, persamaan, menghilangkan perbedaan jenis kelamin, asal-usul atau kebangsaan, ras atau warna kulit, dan agama atau ideologi.